LATEST UPDATES
23/08/2014
  • Loading...
  • Loading...
  • Loading...
  • Loading...
  • Loading...
Anak Kecil dan Piano

piano-anak-kecil.jpg

Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia  kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang  terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut  datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena  ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket  pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser  dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti  layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak  betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah  terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat  anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan  sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin  tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano  dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle twinkle little star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya  suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa  aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang  pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas  panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak  menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan  mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam  permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua  selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru  belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa  bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua  kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ? Kadang kita  bangga akan segala rencana hebat yang kita buat,  perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Tuhan ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Tuhan di samping kita, semua  yang kita lakukan akan sia-sia. Tapi bila Tuhan ada  di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan  saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi  orang di sekitar kita. Semoga kita tidak pernah lupa  bahwa ada Tuhan di samping kita.

 

Sumber : http://bit.ly/ZOGjsf